Kombinasi edukasi tentang dampak energi fosil dengan kebijakan yang mendukung adopsi energi terbarukan berpeluang mengubah sikap masyarakat.

  • Ketika responden diberikan informasi dasar (misalnya, tentang kelangkaan bahan bakar fosil dan kemampuan energi terbarukan untuk menghasilkan listrik yang andal dan terjangkau), mereka cenderung mendukung pengembangan sumber daya energi terbarukan. 
  • Mayoritas responden (74%) setuju bahwa penggunaan minyak dan batu bara merusak alam dan berdampak negatif pada kesehatan (68%). Persepsi ini konsisten di semua kelompok Status Sosial-Ekonomi (SSE).
  • Studi kualitatif juga menunjukkan bahwa penjelasan sederhana tentang energi terbarukan memicu sentimen positif pada responden, seperti harapan dan ketenangan pikiran.
  • Narasi yang mengaitkan energi terbarukan dengan kesehatan dan kualitas udara adalah yang paling menarik dan relevan bagi responden, mengingat pengalaman langsung mereka dengan polusi.
  • Harga  menjadi salah satu faktor penentu yang dapat membuat publik tertarik untuk mengadopsi energi terbarukan.
    • Mayoritas responden mengharapkan energi terbarukan memiliki harga yang terjangkau (83%)  dan mudah diakses (84%).
    • Responden mensyaratkan bahwa harga maksimum listrik dari energi terbarukan harus lebih rendah dari tagihan listrik mereka saat ini. Untuk kelompok konsumsi tertinggi (>1300 KwH), rata-rata tagihan saat ini adalah Rp400.000, sedangkan rata-rata kesediaan membayar untuk energi terbarukan adalah Rp350.000.
  • Ada dukungan publik terhadap kebijakan pemerintah, dengan 74% setuju/sangat setuju bahwa pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk memanfaatkan energi terbarukan.
  • Mayoritas (86%) lebih memilih menggunakan teknologi elektronik rumah tangga yang hemat energi daripada mengeksplorasi sumber energi baru (seperti bahan bakar hayati/biofuel) sebagai cara untuk menghemat energi.
Penerbit
Jumlah sampel (N)
Rentang usia sample
Tahun
Metode sampling
Metode