- Persepsi atau citra KLB merupakan tema yang paling banyak muncul dalam diskusi. Peserta cenderung melihat KLB sebagai simbol status, kemewahan, dan tren.
- Penghematan biaya operasional dan manfaat finansial menjadi keunggulan KLB dibandingkan kendaraan bensin. Peserta mengaitkannya dengan penghematan bensin dan biaya perawatan, serta insentif pajak dan subsidi.
- Jika dibandingkan pertimbangan antara konsumen dan pengusaha, konsumen cenderung memikirkan biaya, kenyamanan, dan gengsi. Sedangkan, pengusaha transportasi dan logistik cenderung mempertimbangkan berdasarkan perhitungan untung-rugi, seperti biaya operasional turun dan citra perusahaan naik.
- Secara umum, masyarakat cenderung masih memandang KLB sebagai urusan konsumsi pribadi. Manfaat publik yang mereka sebut sebatas bebas asap, bebas bising, dan kesan kemajuan teknologi. Manfaat publik seperti ramah lingkungan belum menjadi fokus utama.
Sepuluh tema teratas yang muncul dalam kategori “Keunggulan dan Citra KLB”

- Masyarakat cenderung membayangkan KLB hanya sebagai kendaraan kedua untuk perjalanan jarak pendek dalam kota, bukan pengganti kendaraan utama, karena masih ada berbagai hambatan dan kekhawatiran.
- Situasi setelah membeli KLB menjadi kendala terbesar, seperti sulitnya mendapatkan suku cadang, terbatasnya bengkel dan teknisi, serta perawatan yang dianggap rumit. Selain kendala teknis, biaya juga menjadi kendala besar. Peserta menilai harga unit dan baterai mahal serta mendengar bahwa nilai jual kembali KLB rendah dan biaya listrik rumah tangga dapat meningkat.
- Kendala berikutnya adalah minimnya infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan keterbatasan jarak tempuh yang membuat peserta semakin ragu untuk mengadopsi KLB.
Sepuluh tema teratas yang muncul dalam kategori “Hambatan dan Kekhawatiran terhadap KLB”
