bg top image

Niat publik untuk menuntut transisi energi yang cepat dan adil

Survei nasional tentang literasi energi, keadilan sosial, dan niat masyarakat Indonesia untuk ikut serta dalam aksi kolektif untuk menuntut transisi energi yang cepat dan adil.

Kami telah mempublikasikan laporan penelitian lengkap (dalam bahasa Inggris) di halaman berikut.

Setidaknya sejak 2015, Indonesia belum pernah mencapai target energi terbarukan yang ditetapkan sendiri. Pemerintah berulang kali menurunkan dan menunda target tersebut. Padahal, transisi energi perlu dipercepat untuk mencapai target nol emisi pada tahun 2050. Namun, transisi energi tidak cukup hanya berlangsung cepat; prosesnya juga harus adil. Transisi energi berisiko membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan menggusur masyarakat akibat pembangunan fasilitas energi terbarukan. 

Untuk mencapai transisi energi yang cepat dan adil, publik harus mendesak pemerintah untuk membuat dan menegakkan kebijakan yang lebih ambisius. Tanpa desakan publik, pemerintah tidak menghadapi konsekuensi politik ketika membatalkan atau tidak memenuhi komitmennya. Karena itu, kami bertanya: apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki niat untuk menuntut transisi energi yang cepat dan adil?

Untuk menjawabnya, kami melaksanakan survei  Barometer Hijau, studi dua tahunan tentang opini publik terhadap perubahan iklim, transisi energi, perlindungan hutan, dan penggunaan lahan. Kami melaksanakan survei gelombang pertama pada 2026 dengan dukungan dana dari Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB).

Pada April hingga Mei 2026, kami mewawancarai secara tatap muka 2.033 responden berusia 18 tahun yang terpilih melalui metode sampling acak berjenjang di 19 wilayah perkotaan dan 18 wilayah perdesaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sebelum meminta pendapat, kami memberikan definisi singkat dalam bahasa sederhana tentang beberapa  istilah terkait perubahan iklim dan transisi energi (misalnya bahan bakar fosil, energi terbarukan, dan transisi energi itu sendiri). Kami menganalisis niat responden untuk ikut aksi kolektif, seperti menandatangani petisi atau ikut unjuk rasa, menggunakan kerangka Social Identity Model of Collective Action (SIMCA).

Hasilnya, masyarakat belum punya niat yang kuat —setidaknya sampai saat ini. Untuk setiap bentuk dari sembilan aksi kolektif yang kami tanyakan, 81–95% responden belum pernah ikut. Kami menemukan tiga hambatan utama: literasi energi yang rendah, rasa ketidakadilan yang salah sasaran, dan identitas sebagai kelompok politik yang tidak tersalurkan karena belum percaya  pada organisasi masyarakat sipil (OMS).

Temuan utama

  • Hanya 28% responden yang pernah mendengar istilah “energi terbarukan” dan 24% yang pernah mendengar istilah “transisi energi”.
  • Hampir tidak ada yang mengaitkan penggunaan batu bara dan BBM dengan perubahan iklim. Setelah membaca penjelasan singkat tentang perubahan iklim, hanya 17% responden yang menyebut batu bara dan 12% yang menyebut BBM sebagai penyebab perubahan iklim. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan proporsi responden yang menyebut siklus alam (72%) dan kehendak Tuhan (56%).
  • Literasi energi berkaitan dengan dukungan terhadap kebijakan transisi energi. Sebanyak 78% responden berliterasi energi tinggi ingin transisi energi dipercepat sekarang juga, dibandingkan dengan 58% responden berliterasi rendah. Namun, sekitar separuh responden di kedua kelompok tetap ingin subsidi BBM menjadi prioritas pemerintah.

 

  • Sebanyak 87% responden menilai pemerintah pusat sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas transisi energi, namun 65% menilai upaya pemerintah belum memadai.
  • Meski demikian, kurang dari 20% responden merasa diperlakukan sewenang-wenang atau dikorbankan dalam upaya pemerintah mendorong transisi energi. Sebagian besar responden justru merasa tenang, senang, atau bahkan bersyukur atas upaya pemerintah.
  • Rasa ketidakadilan publik justru mengarah pada pihak yang berisiko dikorbankan dalam transisi. Hampir semua responden setuju bahwa keluarga miskin layak menerima bantuan sosial. Namun, hanya 44% dari keluarga kelas menengah yang pencari nafkahnya baru kehilangan pekerjaan layak menerima bantuan. Kami menduga publik akan memberikan penilaian yang serupa kepada pekerja tambang batu bara atau migas yang akan kehilangan pekerjaan akibat transisi energi.

 

  • Sebanyak 55-57% responden akan merasa bangga jika dianggap sebagai bagian dari kelompok yang mendukung atau menuntut transisi energi.
  • Namun, partisipasi dalam aksi kolektif membela lingkungan masih rendah. Bahkan di antara responden yang paling bangga menganggap diri mendukung atau menuntut transisi energi, rata-rata baru pernah mengikuti sekitar satu dari sembilan bentuk aksi kolektif, yang bentuknya antara lain menandatangani petisi, menyumbang ke organisasi lingkungan, dan menyampaikan pendapat di media sosial.
  • Kami menduga warga belum memiliki saluran yang mereka percayai untuk melakukan aksi kolektif. Dalam studi demokrasi dan ruang sipil kami pada 2025, hanya 22-26% responden mempercayai OMS untuk membantu menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.

 

Tabel & grafik

Tabel dan grafik hasil penelitian ini akan tersedia pada pembaruan situs berikutnya. Anda dapat mengakses instrumen dan data penelitian pada halaman berikut. 

Kutip artikel ini

Jika ingin mengutip artikel, silahkan gunakan kutipan dibawah ini:

Bahana (2026) - “Niat publik untuk menuntut transisi energi yang cepat dan adil” Published online at https://labnarasi.id. Retrieved from: https://labnarasi.id/id/topik/niat-publik-untuk-menuntut-transisi-energi-yang-cepat-dan-adil/ [Online Resource]
BibTeX citation
@article{niat-publik-untuk-menuntut-transisi-energi-yang-cepat-dan-adil,. author = {Bahana},. title = {Niat publik untuk menuntut transisi energi yang cepat dan adil},. journal = {Energi terbarukan},. year = {2026},. note = {https://labnarasi.id/id/topik/niat-publik-untuk-menuntut-transisi-energi-yang-cepat-dan-adil/}.}