bg top image

Pandangan masyarakat dan pengusaha terhadap kendaraan listrik berbaterai

Penelitian kualitatif (diskusi kelompok terpumpun dan wawancara mendalam) tentang sikap konsumen, publik, dan pelaku usaha terhadap adopsi kendaraan listrik berbaterai (KLB) di Indonesia.

Laporan penelitian lengkap telah dipublikasikan dan dapat diunduh pada halaman berikut.

Bahana melakukan riset untuk memahami bagaimana masyarakat dan pengusaha Indonesia memandang kendaraan listrik berbaterai (KLB). 

Kami melaksanakan 12 diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussions/FGD) dan 5 wawancara mendalam (In-Depth Interview/IDI) pada September 2024 di Jakarta dan Medan. Peserta FGD berjumlah 48 orang berusia 25-44 tahun yang kami bagi berdasarkan gender dan cara bertransportasi: pengguna kendaraan roda dua, roda empat, dan transportasi umum. Sedangkan, lima peserta IDI kami rekrut dari sektor transportasi dan logistik, mulai dari sewa mobil, bus antarkota, bus pariwisata, hingga angkutan barang.

Masyarakat sipil dapat memakai temuan ini untuk menyusun strategi komunikasi transisi KLB: keraguan mana yang perlu mereka jawab lebih dulu, manfaat mana yang relevan bagi warga, dan mengapa warga belum merasa belum tertarik untuk mendesak pemerintah.

Temuan utama

  • Persepsi atau citra KLB merupakan tema yang paling banyak muncul dalam diskusi. Peserta cenderung melihat KLB sebagai simbol status, kemewahan, dan tren. 
  • Penghematan biaya operasional dan manfaat finansial menjadi keunggulan KLB dibandingkan kendaraan bensin. Peserta mengaitkannya dengan penghematan bensin dan biaya perawatan, serta insentif pajak dan subsidi.
  • Jika dibandingkan pertimbangan antara konsumen dan pengusaha, konsumen cenderung memikirkan biaya, kenyamanan, dan gengsi. Sedangkan, pengusaha transportasi dan logistik cenderung mempertimbangkan berdasarkan perhitungan untung-rugi, seperti biaya operasional turun dan citra perusahaan naik.
  • Secara umum, masyarakat cenderung masih memandang KLB sebagai urusan konsumsi pribadi. Manfaat publik yang mereka sebut sebatas bebas asap, bebas bising, dan kesan kemajuan teknologi. Manfaat publik seperti ramah lingkungan belum menjadi fokus utama.

Sepuluh tema teratas yang muncul dalam kategori “Keunggulan dan Citra KLB”

Sepuluh tema teratas yang muncul dalam kategori “Keunggulan dan Citra KLB”

 

  • Masyarakat cenderung membayangkan KLB hanya sebagai kendaraan kedua untuk perjalanan jarak pendek dalam kota, bukan pengganti kendaraan utama, karena masih ada berbagai hambatan dan kekhawatiran.
  • Situasi setelah membeli KLB menjadi kendala terbesar, seperti sulitnya mendapatkan suku cadang, terbatasnya bengkel dan teknisi, serta perawatan yang dianggap rumit. Selain kendala teknis, biaya juga menjadi kendala besar. Peserta menilai harga unit dan baterai mahal serta mendengar bahwa nilai jual kembali KLB rendah dan biaya listrik rumah tangga dapat meningkat.
  • Kendala berikutnya adalah minimnya infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan keterbatasan jarak tempuh yang membuat peserta semakin ragu untuk mengadopsi KLB.

 

Sepuluh tema teratas yang muncul dalam kategori “Hambatan dan Kekhawatiran terhadap KLB”

Sepuluh tema teratas yang muncul dalam kategori “Hambatan dan Kekhawatiran terhadap KLB”



  • Peserta baru  menyebut manfaat lingkungan KLB setelah diberikan pertanyaan pemantik, terutama bebas asap dan polusi. Namun, mereka cenderung tetap tidak bersedia menanggung kerugian finansial jika harus transisi ke KLB.
  • Sebagian peserta meragukan klaim KLB sebagai kendaraan ramah lingkungan. Menurut mereka, transisi ke KLB hanya memindahkan polusi ke pembangkit listrik tenaga batu bara dan menghasilkan limbah baterai. Sebagian kecil peserta juga membahas penambangan nikel, namun pembahasannya lebih jarang dan lebih dangkal. 
  • Harapan masyarakat terhadap ekosistem KLB sudah cukup jelas, antara lain penambahan SPKLU, subsidi kendaraan dan suku cadang, insentif pajak, cicilan dan asuransi terjangkau, edukasi dari sumber kredibel, pembatasan kendaraan konvensional, jaminan kualitas dan layanan purnajual, pengelolaan limbah baterai, serta jaminan tarif listrik tidak naik.
  • Namun, peserta masih melihat transisi ke KLB sebagai agenda masa depan, bukan sesuatu yang mendesak. Menurut mereka, pemerintah sebaiknya memprioritaskan pembenahan infrastruktur yang sudah ada, seperti jalan dan transportasi umum.
  • Ketika ditanya bagaimana masyarakat bisa mendukung transisi ke KLB, peserta cenderung menyebut membeli kendaraan listrik. Bentuk dukungan lain yang mereka sebut pun pasif, seperti membantu promosi dan bercerita ke teman. Sebagian besar tuntutan mereka arahkan ke industri KLB, bukan ke pemerintah.
  • Terdapat empat alasan masyarakat enggan mendesak pemerintah: rendahnya ekspektasi terhadap pemerintah, merasa tidak punya kuasa, takut mendapat sanksi jika bersuara, dan menganggap KLB sebagai urusan bisnis dan lobi politik.

Tabel & grafik

Tabel dan grafik tidak tersedia karena penelitian ini bersifat kualitatif. Instrumen dan data penelitian dapat diakses di halaman berikut.

Kutip artikel ini

Jika ingin mengutip artikel, silahkan gunakan kutipan dibawah ini:

Bahana (2026) - “Pandangan masyarakat dan pengusaha terhadap kendaraan listrik berbaterai” Published online at https://labnarasi.id. Retrieved from: https://labnarasi.id/id/topik/pandangan-masyarakat-dan-pengusaha-terhadap-kendaraan-listrik-berbaterai/ [Online Resource]
BibTeX citation
@article{pandangan-masyarakat-dan-pengusaha-terhadap-kendaraan-listrik-berbaterai,. author = {Bahana},. title = {Pandangan masyarakat dan pengusaha terhadap kendaraan listrik berbaterai},. journal = {Energi terbarukan},. year = {2026},. note = {https://labnarasi.id/id/topik/pandangan-masyarakat-dan-pengusaha-terhadap-kendaraan-listrik-berbaterai/}.}